SIFAT- SIFAT INTI
Seperti sistem yang dibangun oleh hukum Mekanika Kuantum, inti adalah suatu hal yang
membingungkan dan penuh misteri, sehingga kita mengalami banyak kesulitan dalam
menyusun karakteristiknya
dibanding mengamati bendanya. Daftar petunjuk-petunjuk penting untuk
mengkarakterisasi semua interaksi timbal-balik 50 nukleon dalam sebuah
inti dapat terdiri dari 50 atau sekitar
1064 ketentuan yang harus dilakukan. Oleh Karena itu kita
harus memilih pendekatan berbeda dan mencoba merinci semua karakteristik inti.
Apakah terdapat sedikit sifat-sifat fisika yang dapat didaftar untuk memberikan
deskripsi yang cukup mengenai inti ?
Untuk jangkauan yang
luas, Kita dapat menggambarkan inti dengan parameter-parameter dengan nilai
yang relatif kecil : jari-jari, massa, Energi ikat, momentum angular, paritas,
dipole magnetik dan momen quadrupole
listrik, dan energi-energi dari keadaan yang distimulasi. Ini merupakan sifat-sifat statis inti yang
akan dibahas pada bab ini. Dibab berikutnya kita akan mendiskusikan sifat-sifat
dinamis inti, termasuk Probabilitas peluruhan dan reaksi. Untuk mengerti
sifat-sifat statis dan dinamis inti, syarat interaksi antara masing-masing
nucleon merupakan tantangan yang berat yang dihadapi Fisikawan inti.
a.
Jari – Jari Inti
Seperti
jari-jari atom, jari-jari inti bukan sebuah kuantitas yang didefenisikan dengan
tepat. Baik atom maupun inti bukan merupakan bola pejal dengan batas yang
curam. Potensial Coulumb yang mengikat atom dan
distribusi muatan listrik
yang tak terbatas, walaupun
demikian keduanya menjadi sangat kecil
pada jarak yang jauh dari inti atom (10-10
m). yang dibutuhkan adalah defenisi operasional nilai jari-jari atom.
Sebagai contoh kita bisa saja mendefenisikan jari-jari atom dari rata-rata
jari-jari yang paling besar dari beragam keadaan populasi elektron dalam sebuah
atom. Seperti sebuah sifat yang amat sulit untuk diukur, dan sangat banyak
defenisi praktis yang digunakan. Seperti ruang antara atom-atom dalam senyawa
ion yang terdiri dari atom-atom yang diperhatikan. Ini hanya beberapa kesulitan
jika kita mendapatkan jari-jari yang berbeda untuk atom ketika berada dalam sebuah senyawa yang berbeda
atau valensi yang berbeda.
Untuk inti,
lebih baik dalam beberapa aspek dan lebih buruk dalam beberapa hal. Seperti
yang akan kita bahas, kerapatan nukleon dan potensial inti yang
mempunyai kebergantungan ruang yang sama, relatif
konstan di jarak yang dekat
yang turun secara tajam menuju nol. Oleh
karena itu secara relatif wajar mengkarakterisasi bentuk inti kedalam dua
parameter: Rata-rata jari-jari, dimana kerapatannya setengah dari nilai
pusatnya, dan “ketebalan kulit” yang kerapatannya turun dari maksimum ke
minimum.
a.
Distribusi Muatan Inti
Masalah yang kita hadapi adalah kesulitan menentukan
distribusi apa yang digambarkan. Jari-jari yang kita ukur bergantung pada jenis
eksperimen yang kita lakukan untuk mengukur bentuk inti. Dalam beberapa
eksperimen seperti hamburan electron berenergi tinggi, Muonic sinar X, pengalihan
optic dan Isotop sinar X, dan perbedaan energi dari refleksi inti, kita mengukur hubungan Coulomb dari pergantian partikel
dengan inti. Eksperimen-eksperimen ini dapat menentukan Distribusi muatan inti (terutama distribusi proton, tetapi juga
melibatkan distribusi neutron, karena struktur internalnya). Dalam percobaan
lain seperti hamburan Rutherford, Peluruhan, dan Pion sinar X, kita mengukur
interaksi inti yang kuat dari dari partikel-paertikel inti, dan kita menetukan
distribusi nucleon, dan biasa disebut Distribusi Materi Inti.
Metode umum yang kita gunakan untuk menetukan ukuran dan bentuk sebuah
objek adalah meneliti radiasi yang dipancarkannya. Untuk melihat objek dan bagian-bagiannya, panjang gelombang
radiasi harus lebih kecil daripada dimensi objek tersebut. Jika tidak demikian
maka efek dari difrakasi akan membuat gambar kabur sebagian atau keseluruhan.
Untuk inti dengan diameter sekitar 10 fm, kita membutuhkan λ ≤ 10 fm, sama halnya dengan p
≤
10 MeV/c. Berkas electron dengan
energi 100 MeV sampai 1 GeV dapat dihasilkan dari pemercepat berenergi tinggi,
seperti Pemercepat Linear Stanford, dan dapat dianalisis dengan Spektrometer yang teliti untuk memilih electron-elektron
dengan hamburan elastis dari inti target yang dipilih. Gambar 3.1
memperlihatkan sebuah contoh hasil eksperimen . Minimum pertama dari difraksi
dapat terlihat jelas; untuk difraksi piringan bundar berdiameter D. Minimum
pertama muncul pada θ = sin-1(1,22 λ/D) dan hasilnya ditaksir
jari-jari inti yaitu 2,6 fm untuk 16O dan 2,3 fm untuk 12C.
Bagaimapun ini hanya taksiran kasar
karena hamburan potensial adalah masalah tiga dimensi, hanyalah pendekatan yang
berhubungan dengan difraksi piringan dua dimensi.
Gambar 3.2 menunjukkan hasil pemancaran elastic dari
sebuah gelombnag inti 208Pb, Beberapa difraksi minimal dapat dilihat
dan ini tidak sampai nol seperti
difraksi minimal cahaya yang mengenai sebuah piringan buram, karena inti tidak
mempunyai batas yang jelas.
Fungsi gelombang
elektron
dalam bentuk eiki.r, khusus untuk partikel bebas momentum pi =hki.
Pancaran elektron
dapat juga dipandang sebagai partikel bebas momentum pi =hki dan fungsi gelombang eiki.r.
Hubungan V(r) mengubah gelombang awal
masuk kepancaran gelombang yang berdasarkan persamaan 2.80
F (ki, kt) =
(3.1)
F(q) = eiki.r
V(r) dv (3.2)
Terpisah dari kontanta normalisasi dengan syarat
bahwa F(0) = 1. Disini q = ki – kt yang pada dasarnya perubahan momentum yang
dipancarkan oleh elektron.
Interaksi V(r) bergantung pada kerapatan muatan inti Ze
, dimana r’ adalah koordinat yang menggambarkan
sebuah inti dalam volume inti
dan
memberikan distribusi pada muatan inti. Ini
ditunjukkan pada gambar 3.3, sebuah elektron berada di r memiliki energy
potensial yang disebabkan oleh elemen muatan dQ di r’.
b. PENYEBARAN
MATERI .INTI
Eksperimen yang
melibatkan gaya inti antara dua inti
atom selalu
memberikan ukuran jari-jari inti. Penentuan variasi gaya antara inti
memungkinkan perhitungan jari-jari inti.
Dalam kasus ini jari-jari merupakan karakteristik dari inti, juga gaya
Coulomb; karena itu jari-jari ini mencerminkan distribusi semua nukleon dalam
suatu inti, bukan hanya proton.
Metode ketiga untuk
menentukan jari-jari masalah nuklir adalah pengukuran energi Mesić π-sinar-X.
Metode ini sangat mirip dengan sinar-X muonic
yang dibahas di atas untuk mengukur jari-jari inti. Perbedaan antara dua
teknik hasil dari perbedaan antara muons dan π meson: yang muons berinteraksi
dengan inti melalui gaya Coulomb, sedangkan meson π berinteraksi dengan inti
hingga nuklir dan gaya coulomb. Seperti muons, muatan negatif meson π
berjenjang melalui elektron seperti mengorbit dan memancarkan foton dikenal
sebagai Mesić π-sinar-X. Ketika fungsi gelombang meson π mulai tumpang tindih
dengan inti, tingkat energinya
agak bergeser dari nilai-nilai yang dihitung
yang hanya menggunakan interaksi Coulomb. Selain itu, π meson dapat langsung
diserap ke dalam inti, terutama dari bagian dalam orbit; sehingga terdapat
lebih sedikit sinar X. Nilai dari π meson memberikan cara lain untuk menentukan
jari-jari inti.
c.
MASSA DAN KELIMPAHAN INTI
Dalam apendix C adalah suatu tabel nilai-nilai yang terukur dari
massa dan kelimpahan atom netral berbagai inti radioaktif stabil. Sekalipun
kita harus meneliti kesetimbangan energy di dalam reaksi inti dan kerusakan
yang menggunakan massa inti, itu adalah biasa untuk menyusun menjadi mungkin
oleh karena itu diperlukan untuk mengoreksi massa dan energi ikat elektron.
Ketika kita memeriksa lebih dalam ke dalam unsur pokok penyusun
materi berarti energi ikat menjadi semakin besar jika dibandingkan dengan
sisanya energi sistem yang terikat itu. Pada atom hidrogen, energi ikat 13,6 eV
yang mendasari hanya 1,4 x10-8 dari total energy diam atom. secara
sederhana inti, seperti deuterium, energi ikatnya 2,2 Mev adalah 1,2x10-3 dari
massa total energy. Deuteron secara relatif dengan energy ikat lemah dan jumlah
nomor inti demikian adalah rendah dibandingkan dengan inti khas di mana pecahan
akan lebih besar dari 8x10-3. Namun pada suatu tingkatan lebih dalam, tiga elektron raksasa
menyusun suatu neclueon. Massa elektron yang dikenal ( tidak ada elektron bebas
yang telah ditetapkan secara eksperimen dan elektron tidak mungkin diijinkan
untuk ada dalam keadaan bebas), tetapi memungkinkan bahwa
mereka mungkin lebih besar dari 100 Gev/C2. Jika demikian, energi
ikat suatu nukleon akan menjadi suatu
pecahan lebih besar dari 0,99 massa total electron. 3 elektron dari total energy diam mungkin memiliki 300
Gev berkombinasi untuk menghasilkan suatu nukleon energy diam 1GeV!
Maka tidak mungkin untuk memisahkan suatu pembicaraan massa inti
dari energi ikat inti; jika demikian, inti akan mempunyai massa yang diberikan
oleh Zmp + Zmn,
dan inti materi akan menjadi susah dipelajari . Pada bagian ini, pengukuran
massa inti menduduki tempat yang sangat
penting dalam pengembangan fisika inti. Spektrometri massa adalah teknik yang
pertama yang tersedia untuk mengadakan percobaan dengan ketepatan tinggi, dan
sejak itu, massa suatu inti meningkat dengan penambahan satuan ion positif atau
netron, pengukuran massa memungkinkan untuk memetakan keseluruhan radio isotop. Pada bagian ini, kita membatasi masalah pada
penentuan massa inti yang bersifat percobaan, perlakukan inti sebagai obyek
sederhana dengan tidak ada struktur internal. Pada bagian yang berikutnya, kita
meneliti massa yang terukur untuk menentukan energi ikat itu. Pada abad ke-19,
pengukuran atomis berat rata-rata atom mendorong pertentangan di dalam table skala periodik atom
seperti misordering unsur kobalt dan nikel, unsure kobalt menjadi lebih berat
tetapi nikel terdahulu di dalam system periodik berat atom tidak berdasar pada
nomor atom. Dengan sama pentingnya, tidak ada pemahaman struktur inti dapat
sukses kecuali jika kita dapat menjelaskan variasi itu dalam inti dari satu
isotop ke isotop yang lain untuk penyelidikan yang bersifat percobaan.
Menentukan massa inti dan kelimpahan relatif adalah contoh yang biasa, yang
genap untuk suatu unsur yang murni mungkin adalah campuran dari suatu isotop
yang berbeda , kita harus mempunyai suatu cara untuk memisahkan isotop itu satu
sama lain dari massa mereka. Pemisahan isotop tidak memerlukan suatu instrumen
besar dengan isotop sensitivitas tinggi dengan perantara berat inti yang
berbeda massanya sekitar 1%. Untuk mengukur massa dengan ketelitian hingga orde 10-6 memerlukan
instrumen yang lebih sempurna dan jauh lebih besar, yang dikenal dengan
spektroskop massa.
d.
ENERGI IKAT INTI
Massa
energi mNc2
dari sebuah inti tertentu adalah massa energi atom mAc2 dikurang massa energi total dari
elektron Z ditambah total energi ikat elektronik
:
dimana Bi adalah energi ikat dari
elektron i. Energi ikat elektronik berkisar antara 10-100 keV pada atom padat
sementara massa energi atom adalah A x 1000 MeV; karena itu ketelitian sekitar
1 bagian dalam 106 kita dapat mengabaikan bagian akhir dari
persamaan 3.23. (Seperti halnya ketelitian 10-6 tidak mempengaruhi
pengukuran dalam fisika inti karena kita biasanya bekerja dengan perbedaan dalam massa energi, seperti
dalam menentukan kerusakan atau energi reaksi; efek dari energi ikat elektron
cenderung diabaikan dalam perbedaan ini)
energi
ikat B dari inti adalah selisih massa energi antara sebuah inti
dan unsur proton Z dan neutron N :
B = {ZmP
+ Nmn – [m(AX) - ZmC]}c2 (3.4)
Dimana
kita harus menghilangkan tulisan A dari mA
dari sekarang, kecuali kita menafsirkan sebaliknya, kita akan selalu berurusan
dengan massa atom.
Mengelompokkan proton Z dan massa elektron ke dalam
atom hidrogen netral Z, kita dapat menulis ulang persamaan 3.24 menjadi
B
= [Zm(1H) + Nmn – m(AX)]c2 (3.5)
e. MOMENTUM ANGGULAR INTI DAN
KESEIMBANGAN
Untuk menghindari
kesalahan, kita akan selalu menggunakan I untuk
menyimbolkan putaran inti. Dan j digunakan untuk mewakili momentum sudut
total pada inti tunggal. Dalam
sebuah kotak partikel valensi tunggal, I=j. Dalam kasus lain ,ini mungkin
dianggap dua partikel valensi, dalam hal
ini I = j1 + j2 dan mungkin akan ada perbedaan nilai
resultan. Kadang –kadang pada partikel ganjil , inti berperan sebagai momentum
sudut, dimana I = jpartikel +
jcore.
Satu pengecualian jika kemungkinan ada
komponen z pada momentum sudut total dengan inti tunggal, setiap j harus
setengah integral ( ½,3/2,5/2,…) dan
komponen z juga harus setengah integral (
1/2h,
3/2h,
5/2h,…).
Jika kita mempunyai sejumlah inti, akan ada
komponen yang jumlahnya setengah
integral,dengan z adalah komponen
total I
dapat mengambil nilai integral dengan I bersifat integer.jika bilangan
inti adalah ganjil,komponen z setengah integral begitupun I, kita harus
mengikuti aturan beerikut :
inti A
– ganjil : I = setengah integral
inti A
– genap: I = integral
Persamaan yang dipakai untuk putaran inti,
kita dapat mengambil + ( genap) or – ( ganjil). Jika kita mengetahui fungsi
dari gelombang inti, kita dapat menentukan persamaan inti dengan mengalikan
partikel dari setiap inti A. dengan hasil akhir
yang +
atau - .
=
1
2….
A.
Akan tetapi, persamaan ini tidak dapat digunakan untuk setiap inti. Seperti
halnya I, kita memasang persamaan
sebagai suatu “ kelebihan” putaran inti,
sebagai contoh o+,2-,1/2-,5/2+,dimana
tidak ada hubungan antara I dan
; untuk semua I ,memiliki
= + atau
= -.
f.
MOMEN
ELEKTROMAGNETIK INTI
Benyak yang kita ketahui tentang struktur inti
berasal dari interaksi inti yang kuat dari inti dengan sekelilingnya, tapi
banyak interaksi elektromagnetik yang lemah. Itu berarti interaksi inti yang
kuat membangun penyaluran dan gerakan nucleon dalam inti dan kita menyelidiki
tentang penyaluran dengan interaksi elektromagnetik. Dalam kegiatannya, kita
dapat menggunakan daerah elektromagnetik yang kuran akibatnya pada gerak
nucleon menjadi gaya yang kuat dari lingkungan inti; demikian kita mengukur
tidak serius mengubah objek dan kita mencoba untuk mengukur lagi.
Banyak penyaluran dari muatan dan arus listrik
menghasilkan medan listrik dan medan magnet yang berubah terhadap jarak dengan
cara yang khas. Distribusi medan dan
arus sebuah momen elektromagnetik multipole bergantung pada karakteristik
ruang -1/r2 medan listrik
timbul dari muatan jala-jala dimana kita sebut sebagai yang kenol atau momen
monopole; 1/r3 medan listrik muncul dari yang pertama atau momen
dipole1/r4 munculnya medan listrik yang kedua atau momen quadrapole,
dan selanjutnya. Moment multikutub magnetik berlaku sama dengan kebalikan
moment tunggal. Seperti yang kita ketahui kutub tunggal magnetik lainnya tidak
ada atau jarang, da medan magnet tunggal ini (α1/r2) tidak
terkontribusi. Teori elektromagnet memberikan cara untuk mengkalkulasikan
variasi elektrik dan moment dwi kutub magnet, dan dengan solusi yang sama dapat
member pedoman inti yang menggunakan mekanika kuantum. Dengan mengacak momen
multikutub dalam bentuk operasi dan perhitungannya mendekati nilai dari variasi
nilai inti. Pendekatan nilai ini kemudian dapat secara langsung dibandingkan
dengan nilai eksperimen yang kita ukur d la. Hal yang paling
sederhana adalah memberikan arus pada medan kutub rangkap. Muatan pada suatu
kutub lebih cepat menghilang dibandingkan medan magnet dua kutub (dengan
gerakan inti yang tetap), dan struktur inti akan didapatkan. Maka biasanya
untuk mengetahui sifat terkecil dari sebuah momentum multi kutub diperlukan
sifat elektromagnetik inti.
g. KEADAAN
INTI TEREKSITASI
Ketika kita belajar sekitar atom dengan belajar keadaan
teralan mereka, kita pelajari tiap bagian struktur nuklir dari keadaan teralan
nuklir. ( dan seperti keadaan teralan yang atomis, keadaan teralan yang nuklir
adalah tidak stabil dan cepat rata dengan tanah). Dalam atom, kita membuat
keadaan teralan dengan menggerakkan elektron tunggal ke garis edar energi yang
lebih tinggi, dan kita dapat melakukan hal yang sama untuk nucleon tunggal,
dengan begitu keadaan teralan dapat mengungkapkan tentang sesuatu garis edar
dari nucleon tunggal. kita telah beberapa kali
di bab ini menunjukkan struktur komplementer partikel tunggal dan yang
kolektif dari nucleus, dalam hal ini kita juga dapat menghasilkan keadaan
teralan dengan menambahkan energi yang besar dari nucleon yang dipasangkan.
energi ini dapat memberikan bentuk dari rotasi kolektif atau getaran dari
keseluruhan inti, atau itu bisa menyebabkan retakan salah satu dari pasangan,
dan dapat menambahkan dua nucleon valensi.
Gambar 3.1
Suatu bagian yang dapat menembus spektroskopi nuklir digunakan untuk mengamati keadaan teralan
yang mungkin terjadi dan sekaligus untuk mengukur. teknik yang bersifat
percobaan yang tersedia meliputi bermacam-macam studi reaksi nuklir dan
pelapukan radioaktif. kita akan mempertimbangkan secara detil di bagian yang
berikut. di antara muatan, kita perlu mengukur keadaan teralan masing-masing
bagian, seperti: energi dari eksitasi, spin, momen dwikutub magnetik, dan momen
caturkutub elektrik. dengan lebih dari 1000 nuklida tunggal, masing-masing
nuklida tersebut mungkin mempunyai beratus-ratus keadaan teralan, kegiatan
mengukur, menyusun tabel, dan menginterpretasikan data yang hampir berlimpah.
Gambar 3.1 menunjukkan rencana sederhana nuklir. beberapa
dari keadaan teralan dikenali ketika memulai dari eksitasi dari nucleon valensi
atau inti, identifikasi seperti (itu) yang terjadi hanya setelah muatan yang
didaftarkan di atas telah terukur dan telah dibandingkan dari kalkulasi yang
didasarkan pada salah satu partikel
tunggal atau eksitasi inti yang kolektif, dan baik dengan menggunakan
eksperimen. di bab yang berikut, kita akan menyelidiki teknik yang bersifat
percobaan yang digunakan untuk menyadap model nuklir dan informasi ini juga
digunakan untuk menginterpretasikannya. hanya melalui eksperimen sulit dan
tepat, dan melalui kalkulasi yang menyertakan keahlian komputer, kita dapat
memperoleh struktur nuklir yang terperinci.


Komentar
Posting Komentar